Kejamnya Dunia, Bodohnya Kita, dan Harapan Linux

Lho apa hubungannya yah? Ceritanya begini…. Kantor kita sedang mencari orang Linux. Jadilah dipasang iklan di salah satu surat kabar nasional terkemuka. Lamaran yang masuk begitu banyak sampai kita harus menentukan cara apa yang paling efektif dan efisien untuk menyortirnya sebelum masuk ke tahap interview.



Akhirnya kita susun sebuah test tertulis singkat. Cuma 5 soal. Ya, cuma 5 soal. Soalnya pun sebenarnya tidak sulit, asalkan yang bersangkutan pernah belajar Linux dan sedikit pengalaman memanage server Linux. Waktu pengerjaan kita setel 20 menit, dengan pertimbangan soal-soal itu cukup mudah dan mengingat banyaknya pelamar yang harus diseleksi. (Sayangnya saya tidak dapat sharing apa isi dari 5 soal itu. Confidential).

Gelombang pertama sebanyak 8 orang pun dimulai. Sebelum testing kita jelaskan bahwa ini merupakan salah satu tahap seleksi kita, dan diharapkan dengan metode ini didapatkan win-win solution dimana dari pihak company dan pelamar sama-sama didapatkan hasil yang efektif dan efisien. Pelamar pun dapat langsung mengetahui hasilnya tanpa harus menunggu janji-janji surga. Sangat terasa atsmosfer optimisme dan eagerness dari para peserta.

Test pun dimulai. Ketika kita jelaskan bahwa harap mengisi nama lengkap, email dan nomor di hp di lembar jawaban, semua peserta masih cerah raut wajahnya.

Tapi begitu soal dibagikan, raut wajah satu persatu mulai berubah. Lima menit, 10 menit. Ada yang mulai geleng2 kepala. Ada yang menatap langit2. Ada yang tertunduk lesu….

Saya 'trenyuh' melihatnya (makanya saya terdorong untuk menulis artikel ini). Sebegitu susahkah soalnya? Mestinya tidak. Saya yakin mestinya admin Linux dalam waktu 5 menit bisa menjawab semuanya dengan benar. Akhirnya waktu 20 menit berlalu dan dengan lesu mereka menyerahkan lembar soal dan jawaban. Saya katakan bahwa mohon menunggu dahulu di depan, sebab kita akan segera memberi tahu apakah para peserta dapat mengikuti test tahap ke-2 atau tidak. Saya tidak sempat memeriksa saat itu sebab gelombang berikutnya sudah menunggu untuk ditest. Akhirnya setelah gelombang pelamar selanjutnya mulai mengerjakan soal, saya mulai memeriksa hasil test.

Hasilnya ternyata mengejutkan sekali. Hanya sedikit yang bisa menjawab melewati soal nomor 2, dan semua jawabannya adalah salah kalau tidak dapat dikatakan ngawur. Dari 8 orang tadi, tidak ada 1 pun yg bisa menjawab dengan benar. Bagaimana saya mengumumkan ke mereka bahwa tidak ada satupun dari mereka yang lolos ke tahap berikutnya? Tapi akhirnya saya pun menemui mereka di depan kantor dimana mereka menunggu.

Saya jelaskan bahwa sesuai dengan job posting yang kita pasang, kita mencari admin Linux yang sedikit banyak telah familiar dengan environment Linux. Dan bahwa setelah kita periksa ternyata saat ini belum ada yang dapat kita ajukan untuk test tahap berikutnya. Tapi kita tetap berterima kasih bahwa mereka telah meluangkan waktu untuk melamar. Juga secara pribadi saya sampaikan ke mereka bahwa setidaknya test ini bisa memberikan sedikit gambaran bagaimana demand skill Linux di dunia kerja. Sebagian dari mereka mulai dapat tersenyum, tapi ada juga yang tetap kelihatan lesu sekali. Kelihatannya dia ingin sekali terjun di dunia Linux, tapi apa daya… skillnya belum memenuhi syarat.

Seharian ini kita mengetest hampir 30 pelamar, dan tidak ada satupun yang berhasil melewati ke tahap selanjutnya. Dari hasil perbincangan, saya ketahui bahwa sebagian besar dari mereka tidak menyangka akan di test Linux dan bahwa selama ini mereka memakai Linux hanya sebagai coba2. Di bangku kuliah materi Linux cuma merupakan sub-bahasan mata kuliah System Operasi, dan semuanya adalah teori belaka. Ada yang pernah training di sebuah lembaga tapi ternyata karena tidak ditekuni, skill Linuxnya menjadi tumpul.

Sebenarnya gejala apakah ini? Saya mencoba merenung2:
Saya masih ingat 2-3 tahun lalu, saya mengikuti (dan sampai sekarang masih) sebuah mailing list di yahoogroups yang beranggotakan sekolah2 kejuruan di seluruh Indonesia. Waktu itu ramai sekali dibahas mengenai opensource dan penerapan pengajarannya di sekolah kejuruan. Banyak sekolah yang antusias dan bekerja sama dengan komunitas Linux di daerahnya mengikuti workshop dan pelatihan Linux agar kemudian dapat mengajarkannya kepada para siswa. Tapi kemudian Micro$oft meluncurkan program School Agreement yang mana intinya adalah program bantuan dana dimana sekolah2 diberikan diskon s/d 90% (bahkan gratis) atas produk2 M$ seperti window$ dan office. Akibatnya apa? Bret! Bret! Pembahasan opensource di milis itu langsung hilang. Takjub sekaligus mengenaskan sekali melihat hal ini. Takjub bahwa api semangat opensource dapat hilang dalam waktu sebegitu singkat. Mengenaskan karena para pendidik tidak sadar bahwa dengan mengambil "jalan mudah" mereka sama saja menjerumuskan para siswa ke dalam perbudakan M$.
– Lho memangnya salah pakai M$?
—- Tidak salah. Tapi lihat dulu berapa biayanya.
– Ah, kan murah, cuma 1-2jt.
—- Segitu dibilang murah? Coba hitung dulu berapa harga M$ Office, bisa 2-4jt. Harga PC saja cuma 3jt-an. Itu baru per individu, kalau dikalikan skala nasional, coba hitung berapa ratus miliar yang akan masuk ke kantong Mr. B. Gate$? Makanya ngga heran beliau sudah 8 tahun berturut2 menjadi orang terkaya dunia.
– Apa peduli saya? Biarin aja, toh bukan duit saya.
—- Ya..ya.., makanya bangsa kita akan terus menjadi bangsa yang bodoh dan terjajah. Kita semua harus peduli.
– Tapi kalau kita ajarkan Linux di sekolah, memangnya di dunia kerja nanti akan dipakai?
—- Itulah akibat propaganda FUD M$ (Fear, Uncertainty, and Doubt). Sekarang ini mulai banyak lowongan kerja yang mensyaratkan keahlian Linux. Perusahaan2 tidak bodoh. Mereka telah melihat, telah mencoba, dan kemudian telah menerapkan solusi opensource di bisnis mereka. Mereka telah membuktikan bahwa "Ngapain buang ratusan juta atau bahkan milyaran rupiah untuk lisensi M$, kalau ternyata telah tersedia solusi opensource yang jauh lebih handal dan ekonomis". Zaman sekarang masih pakai mail server M$ Exchange? Plis deh.
– Tapi kok saya ngga pernah baca sih beritanya bahwa PT. A telah sukses pindah ke Linux, Group konglomerat B memakai Linux di ratusan desktopnya…
—- Banyak sebabnya. Tapi secara rasional hal ini dapat dimengerti. Dunia bisnis adalah murni persaingan. Jadi kalau misalnya sebuah PT berhasil menghemat ratusan juta/milyaran dengan memakai opensource, buat apa mereka mengumumkannya sehingga para competitor mereka pun ikut2 memakai opensource. Biarin aja para competitor itu bangkrut karena dananya habis untuk membeli lisensi M$. Begitu pikir mereka.
– Wah, kok ngga diumumkan sih. Kan kasihan PT2 yang masih harus membayar lisensi M$.
—- Sebenarnya sih tidak juga. Para boss di PT2 itu sebenarnya sudah tahu adanya solusi open source, cuma bedanya adalah, ada yang berani memutuskan untuk lepas dari penjajahan M$, ada yang tidak berani.

Harapan Linux
Kembali ke topik awal. Dengan melihat begitu banyaknya kegagalan pelamar, apakah sudah pupus harapan bangsa kita untuk maju? Tidak.
Banyak universitas yang walaupun mengikuti M$ Campuss Agreement, mereka tetap mengembangkan penggunaan opensource di kegiatan kampus, seperti lab komputer, server2 kampus, kelompok mahasiswa pecinta Linux, dll. Di mailing list pengguna Linux Indonesia pun dapat kita lihat betapa aktifnya mereka. Tanpa iming2 godaan materi apapun, mereka serentak mengadakan kegiatan pengenalan dan workshop Linux untuk masyarakat. Jumlahnya memang masih kecil, tapi gerakan ini murni dan benar2 berasal dari hati nurani. Mereka tidak dapat dikorup dengan iming2 duit. Mereka adalah para pejuang opensource yang penuh idealisme dan pantang menyerah.

Inti untuk bisa maju di dunia opensource cuma satu, yaitu BELAJAR.

Saya sungguh percaya bahwa cepat atau lambat kita semua dapat lepas dari belenggu penjajahan ini dan menjadi bangsa yang maju, besar, dan dihormati oleh bangsa2 lainnya.
Majulah Indonesia bersama Opensource.
Merdeka!
Amin.

By ari_stress (fajarpri at arinet dot org) Bukit Sentul, 4 November 2007. Penulis adalah Microsoft Certified Professional, yang jatuh cinta kepada Linux. Bekerja di sebuah konsultan Linux di Jakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published.